Minta Kebudayaan Tak Diiklankan, Nadiem: Buang-buang Uang :: Nusantaratv.com

Minta Kebudayaan Tak Diiklankan, Nadiem: Buang-buang Uang

Menurut dia jika kebudayaan bagus, dengan sendirinya wisatawan akan datang
Minta Kebudayaan Tak Diiklankan, Nadiem: Buang-buang Uang
Mendikbud Nadiem Makarim.

Jakarta, Nusantaratv.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim meminta promosi kebudayaan tak dilakukan dengan membuang-buang uang. Sebab, cara itu dinilai tak efektif.

Baca juga: Tito Minta Nadiem Bantu Mahasiswa Papua yang Terancam DO 

"Jangan buang-buang uang buat pemasaran. Buang-buang uang untuk pengembangan. Pemasaran akan otomatis bagus kalau produk itu bagus," ujar Nadiem dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Kebudayaan, di Hotel Sahid Jaya, Jakarta Selatan, Jumat (28/2/2020).

"Pokoknya kalau ada mangga yang manis itu bakal kebeli di pasar bakal habis. Nggak usah dipasarin itu mangganya, ibu-ibu akan ngomong-ngomong. Apalagi dunia socmed sekarang," imbuh dia.

Menurut Nadiem, di era seperti sekarang, pemasaran kebudayaan paling efektif dilakukan melalui media sosial.

Nadiem mengatakan, turis yang puas ketika mengunjungi suatu situs kebudayaan, dengan sendirinya menyebarkan pengalamannya itu di media sosial.

"World of mart adalah orang yang akan datang ke situ dan saking bagusnya, saking serunya dia nge-post di Instagram atau di Facebook. Itulah satu-satunya marketing yang akan efektif bagi pengunjung. Mau kita iklanin sebanyak apa pun itu namanya bakar duit aja," tuturnya.

Lebih lanjut, menurut Nadiem tradisi kebudayaan tak hanya sekadar tarian dan lagu. Tapi juga pengalaman baru yang diberikan kepada para turis.

"Jangan lupa tradisi itu bukan hanya tarian dan nyanyian. Budaya itu bukan hanya tarian dan kostum. Budaya adalah apa yang bikin orang kota mengetahui cara mereka hidup itu akan mengangetkan atau bikin 'Wow, saya baru tahu itu bisa seperti itu'," jelas Nadiem.

Kemudian, Nadiem juga menjelaskan tipe turis milenial yang tak ingin sesuatu yang dibuat-buat. Tipe turis ini ingin merasakan pengalaman saat melakukan liburan.

"Turis Indonesia, pengunjung Indonesia yang milenial dan urban, yaitu yang punya uang untuk bisa menggerakkan ekonomi lokal bapak-bapak, ibu-ibu, maupun turis mancanegara yang mempunyai lebih banyak lagi uang untuk menggerakkan ekonomi, tidak tertarik disuguhi hal-hal yang dibuat-buat sengaja hanya untuk mereka," papar Nadiem.

"Mereka ingin merasa mereka (turis) ini membuka jendela atau pintu seolah-seolah mereka masuk kehidupan orang lokal," sambungnya.

Nadiem juga mau cagar budaya yang dibuat harus menyediakan tempat untuk para turis nongkrong.

"Jadi kalau mau menciptakan suatu cagar budaya harus ada lingkungan sekitar atau tempat tongkrongnya harus nyaman," jelas Nadiem.

Ia juga menyoroti aspek kuliner dalam sebuah situs kebudayaan. Dalam sebuah lokasi kebudayaan, menurutnya harus  memberikan makanan dan minuman yang terbaik ke pengunjung.

"Jadi kalau ada cagar budaya di suatu tempat itu minuman, makanan seperti apa? Kita manusia bukan hanya satu hal yang didapat. Tapi experience makanan minuman dan transportasi harus dipetakan. Kadang tempatnya bagus, tapi makanan yang enak tidak disuguhkan. Kalau ada festival kopi, produknya dijual di acara-acara," tandas mantan bos Gojek.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0